Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Mar 17, 2007

IT'S JUST BROKEN HOME NOT BROKEN US!


Sering banget istilah broken home kita temui, seperti situasi keluarga yang berantakan karena orangtua tidak peduli sama keluarga, keadaan yang bikin kita nggak betah di rumah, dan kondisi yang tidak harmonis bisa disebut broken home.
Sebagian orang mengatakan, broken home akan berakhir pada perpisahan atau perceraian suami-istri yang dilandaskan pada keputusan terbaik. Mungkin iya untuk mereka, tapi apa itu juga yang terbaik untuk kita sebagai anak????
Kita sebagai anak yang biasa dijadiin korban pasti bingung harus gimana. Bisa kita jadi murung, sedih, dan malu. Kita juga jadi hilang pegangan dari orangtua yang seharusnya membimbing kita. Nggak ada satu orang pun yang menginginkan keadaan keluarga kayak gini. Kita harus bangun dari "mimpi buruk" itu….
1. Nggak boleh nyerah sama keadaan. Coba ngomong sama orangtua buat membicarakan masalah yang ada sampai nemuin kunci buat nyelesein.
2. Kalau nggak berhasil nyatuin, ya kita tetep harus selalu mikir positif sama apa yang terjadi. Kita harus coba menerima dan tegar. Jauhkan segala pikiran buruk yang bisa menjerumuskan kita menuju kehancuran atau malah menyiksa diri sendiri.
3. Cobain deh hal-hal baru yang menantang, kayak hiking, rafting, atau olahraga alam. Yang bisa bikin kita lebih segar dan ngelupain hal-hal buruk.
4. Kita nggak sendirian lho! Lo bisa cari tempat buat cerita-cerita.Tapi, yang pasti cuma orang-orang tertentu yang bisa dipercaya aja lho. Jangan sembarang orang!
5. Bangun dari mimpi masa lalu. Kita harus belajar sadar bahwa di balik keputusan bokap-nyokap yang nyakitin kita, larut dalam keadaan nggak bikin kita sehat atau dapetin kebahagiaan yang kita inginkan. Buktiin kalau kita bisa. Buktiin kalau kita tetap sama kayak anak lain. Buktiin kalau kita bisa ngasih yang lebih baik daripada yang lain. Tetap berusaha dan semangat ! Itu kuncinya.
6. "Take a new position at our home". Mungkin setelah nggak ada lagi papa-mama di rumah, kita bisa ngambil posisi mereka di rumah. Kita belajar untuk lebih dewasa dan kita bisa belajar bertanggung jawab lebih besar dibandingkan anak-anak lain.
7. "Let the history be the history and do something for the future". Masa lalu biarin aja jadi masa lalu, jangan terus-terusan nyalahin apa yang udah terjadi. Inget, kita nggak hidup untuk masa lalu, tapi buat masa depan. Jangan jadi minder sama keadaan kita yang bukan dari "happy family". Justru jadiin itu motivasi buat masa depan yang lebih baik.
8. "Don’t waste your time just for something useless". Jangan pernah tertarik sama narkoba atau hal-hal negatif semacamnya. Pelarian kayak gitu sama sekali nggak menyelesaikan masalah. Malah bakal menambah masalah.
9. "Keep praying". Tuhan pasti selalu ngasih jalan yang terbaik buat kita. Walaupun kadang-kadang kita merasa nggak dikasih keadilan, suatu saat lo pasti tahu. Kita bener-bener udah dikasih apa yang terbaik dan yang paling baik di antara semuanya.

Jan 16, 2007

Hak Anak-Anak Yang Orang Tuanya Bercerai







Anak-anak berhak untuk :
  • Mengetahui kebenaran tentang perceraian itu sendiri, dengan penjelasan-penjelasan sederhana. Dilindungi oleh uang perceraian.

  • Membangaun dan membina hubungan yang independen dengan setiap orang tua.

  • Bebas dari keharusan untuk memihak, keharusan untuk membela salah seorang dari orang tuanya, keharusan untuk merendahkan salah satu dari orang tuanya.

  • Bebas dari tanggung jawab sebagai penyebab perceraian.

  • Dipastikan bahwa mereka bukanlah yang dipersalahkan.

  • Bebas dari keharusan untuk mengambil alih tanggung jawab orang tua.Seorang anak tidak dapat menjadi “kepala rumah tangga” atau “ibu kecil” di rumah.

  • Berharap bahwa kedua orang tuanya akan patuh terhadap rencana-rencana orang tua terhadap anak-anak dan menghormati komitmen yang sudah disetujui untuk menyediakan waktu bagi anak-anak.

  • Berharap bahwa kedua orangtnya akan saling meberi informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan,perawatan gigi, pendidikan serta masalah legal lainnya yang berhubungan dengan anak-anak.

  • Menerima cinta,bimbingan, kesabaran,pengertian dan keterbatasan-keterbatasan dari orangtunya.

  • Menghabiskan waktu bersama masing-masing orang tua, tanpa memperhatikan dukungan finansial.

  • Didukung secara finansial oleh kedua orang tua, betapapun banyaknya waktu yang dihabiskan oleh masing-masing orang tua bersama anak.

  • Memelihara privasi saat sedang berbicara dengan salah satu orang tua melalui telepon.

  • Memiliki ruang tidur serta ruangan sendiri di setiap rumah orang tua.

  • Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sesuai dengan pertambahan usia sepanjang aktivitas itu tidak mengganggu hbungan terhadap masing-masing orang tua.

  • Terhindar dari pembicaraan-pembicaraan tentang hal-hal yang menyakitkan dari proses perceraian orang tuanya.

  • Terhindar dari dibuat merasa bersalah karena mencintai kedua orang tuanya.

  • Terhindar dari membuat keputusan-keputusan mengenai hak perwalian ataupun jadwal berkunjung.

  • Terhindar dari diperiksa ulang oleh seorang orang tua setelah si anak mengunjungi orang tua lainnya.

  • Tidak digunakan sebagai pembawa pesan atau mata-mata dari masing-masing orang tua.

  • Tidak diminta untuk menyimpan rahasia-rahasia masing-masing orang tua.



(Dikutip dari the Divorce Helpbook for Kids ; Chyntia MacGregor)

Oct 5, 2006

Dampak Psikologis Anak yang Dibesarkan Tanpa Figur Ayah



Idealnya, seorang anak dibesarkan dalam keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu. Tetapi kadangkala keadaan "memaksa" seorang ibu membesarkan anak seorang diri. Meski si ibu sudah merawat dan memperhatikan si anak, tapi tetap saja ada dampak psikologis yang akan dialami oleh anak yang dibesarkan tanpa figur ayah, apa saja kah itu ?
Menurut Lifina Dewi, M.PSi, psikolog dari Universitas Indonesia, dampak psikologis yang dihadapi anak dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain kepribadian dan gender si anak, serta bagaimana penghayatan si ibu terhadap peran yang dijalaninya.
"Pada anak-anak yang memiliki sifat tegar atau cuek mungkin dampaknya tidak terlalu terlihat, tapi untuk anak yang sensitif pasti akan terjadi perubahan perilaku, misalnya jadi pemurung atau suka menangis diam-diam, hal ini biasanya terjadi pada anak yang orangtuanya bercerai," ujarnya.
Seorang anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk mempelajari hal-hal yang tidak dia dapatkan dari ibunya, begitu pun dengan anak perempuan, ada sesuatu yang dia butuhkan dari kehadiran figur ayah, misalnya bagaimana relasi interpersonal pria dan wanita.
"Setelah remaja atau dewasa, anak-anak ini mungkin saja tumbuh menjadi anak yang permisif, tertutup, pemalu atau justru agresif sekali pada lawan jenis," jelas Lifina. Untuk itu ia menyarankan agar si ibu memperkenalkan dan membiarkan si anak meluangkan waktu bersama pria yang riil, seperti kakek, paman atau teman-teman ibunya sehingga si anak tidak sepenuhnya kehilangan figur ayah.

Penghayatan si ibu
Kesiapan si ibu dalam menjalani perannya sebagai orangtua tunggal juga akan mempengaruhi bagaimana dia bersikap terhadap anaknya. Para ibu yang tidak siap dengan keadaan dan merasa terpaksa menjalaninya akan cenderung menyalahkan kehadiran si anak.
Belum lagi jika si ibu memiliki sifat pencemas dan mudah panik, hal ini tentu saja berpengaruh pada si anak, terlebih anak- anak masih memiliki keterbatasan kemampuan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan perasaannya. Di sinilah diperlukan komunikasi terbuka dan kepekaan dari si ibu untuk menggali perasaan si anak dan mencari tahu apa kebutuhan anaknya.
Menjadi orangtua tunggal berarti harus siap menjadi tulang punggung keluarga, tak jarang karena ingin memenuhi kebutuhan finansial, seorang ibu bekerja terlalu keras sehingga tidak punya waktu lagi untuk anak-anaknya.
Jika si anak terlalu akrab dengan pengasuhnya dan menolak Anda peluk atau gendong, mungkin sudah saatnya Anda mengevaluasi kembali prioritas waktu yang Anda jalani selama ini. Memang diperlukan energi dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk memastikan karir, kehidupan pribadi sekaligus kedekatan dengan anak tetap lancar. Tetapi bukankah anak adalah segalanya bagi seorang ibu ?
Tak perlu berbohong
Perlahan tapi pasti, Anda akan sampai pada satu titik di mana si anak akan mempertanyakan di mana ayahnya. Bagi ibu yang bercerai atau menjanda karena suaminya meninggal, tentu tidak akan terlalu sulit menjelaskan. Tetapi si ibu yang memang memilih tidak menikah tentu menghadapi dilema ketika harus menjelaskan pada si anak siapa ayah mereka sesungguhnya.
"Untuk menjawab pertanyaan si anak tentang asal-usulnya, sebaiknya si ibu menyesuaikan dengan usia si anak untuk mencerna," ungkap Lifina. Jika si anak masih balita, carilah media yang ia mengerti untuk masuk ke topik, misalnya saat menonton film animasi katakan, "Barnie dan Spongebob juga tidak punya ayah. Kamu tidak punya ayah, tapi punya mama, kakek, nenek serta om dan tante yang sayang sekali sama kamu."
Tak sedikit para single mom yang memilih melakukan white lie kepada anaknya dengan dalih akan menjelaskan secara jujur jika kelak si anak sudah dewasa. Namun, Lifina menyarankan agar si ibu berkata terus terang kepada anak. Akan lebih baik jika si anak mendengar langsung dari ibunya daripada mendengar bisik-bisik di lingkungannya.
Pihak sekolah juga bisa membantu memberi pemahaman kepada anak-anak bahwa yang dimaksud dengan keluarga tidak selalu terdiri dari ayah dan ibu. Lebih baik lagi jika anak bersekolah di sekolah yang heterogen sehingga ia makin terbiasa dengan perbedaan.
Seorang anak yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu tetapi sang ibu secara konsisten merawat si anak dengan penuh kasih sayang dan tidak menelantarkannya kondisinya jauh lebih baik dibandingkan seorang anak yang besar dalam keluarga yang lengkap tetapi orangtuanya bertengkar setiap hari.

Penulis: Anna
Sumber : www.kompas.com

Anak-anak dari Orangtua Bercerai: Jangan Diberi Label, Jangan Dihakimi

Suatu petang, Bram (16) bercerita pada ibunya tentang guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) di sekolah yang tiba-tiba memanggilnya dan mengajaknya bicara. Begitu bertatap muka, guru itu langsungmenanyakan apakah ia baik-baik saja.Bram bingung. Ia merasa hidupnya biasa- biasa saja. Namun ia terusditanya, bagaimana keadaannya di rumah, kenapa ayah dan ibunyaberpisah, apakah ia merasa kesepian, dan banyak pertanyaan lainnya,yang secara halus memancing-mancing agar Bram menceritakan segalasesuatu tentang dirinya kepada ibu guru BP-nya."Aku heran kok guru BP-ku begitu," ujar Bram, seperti ditirukan ibunya, Ratri (43). Mula-mula Bram mendengarkan saja kata guru BPitu. "Tapi lama-kelamaan, ia merasa tidak tahan lagi. Lalu diabilang, ’Ibu, saya baik-baik saja. Hidup saya mungkin jauh lebihbaik dari anak-anak lain yang masih ada ayah-ibunya di rumah, tetapimereka setiap hari berantem’," ujar Ratri, menirukan ucapan anaknya saat itu.
Kejadian itu, menurut Ratri, sebenarnya sudah terjadi lebih setahunlalu. "Tapi Bram baru bilang saya beberapa hari lalu. Dia sangatpandai menjaga perasaan saya. Dia tidak ingin saya jadi banyak mikir," lanjutnya.
Anak satu-satunya pasangan Ratri dan Pram (bukan nama sebenarnya) itu memang termasuk tipe pendiam. Ia tidak suka hura-hura dan suka sekali membaca, meskipun ia juga suka main musik bersama teman-temannya. Prestasi sekolahnya luar biasa. Selama di SMA ia terus mendapat beasiswa karena nilai-nilainya sangat bagus, khususnya dibidang ilmu pasti.
Ratri dan Pram hidup terpisah sejak Bram berusia empat tahun. Prammelanjutkan studinya ke AS, sementara Ratri dan Bram tetap di Jakarta. Setahun kemudian mereka menyusul ke AS, tetapi Ratri hanyabertahan enam bulan di tempat itu.Hidup bersama suaminya yang ia jalani secara intensif di negeriorang membuat Ratri melihat sisi-sisi lain dari Pram yang tak pernahia lihat sebelumnya. Ia tidak mau keadaannya menjadi lebih buruk.Maka, ia pun memutuskan pulang ke Tanah Air bersama Bram. Sejak itu hidup mereka praktis berpisah, meskipun perpisahan secara legal baru terjadi beberapa tahun kemudian setelah Pram berhasil mengambil gelar Doktor-nya.
Perpisahan Didit dan Mira (bukan nama sebenarnya) tidak terhindarkansetelah 19 tahun perkawinan mereka. Namun, kekhawatiran Mira akan perkembangan anak sulungnya tidak beralasan. Tidak ada satu guru punyang berubah sikap pada Riza (17). Prestasinya di sekolah tidak terganggu. Ketika lulus ia berada di deretan terbaik dari semua murid di sekolahnya. Bahkan, ia mendapat penghargaan khusus sebagai anak yang paling peduli pada sesamanya.
"Riza seperti ingin mengatakan pada saya, ’Saya baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu khawatir’," ujar Mira beberapa waktu lalu. Anak itu menjadi teman ibu dan ayahnya yang kini hidup terpisah.
BANYAK penelitian, salah satunya diterbitkan oleh Journal of Marriage and Family edisi Agustus tahun 2001, menemukan bahwa perceraian orangtua membawa dampak negatif pada banyak anak.Psikolog Rieny Hassan bisa menerima hasil penelitian seperti itudalam beberapa hal. "Harus diakui, perceraian membawa dampak padaanak. Paling tidak, rasa aman mereka terbelah," ujarnya.Namun, sebenarnya hal itu tergantung pada banyak hal. Rieny
menjelaskan, pertama adalah usia anak ketika terjadi perceraian.Kedua, kematangan orangtua menyikapi perpisahan mereka dan ketika menjelaskan pada anak mengapa mereka harus berpisah.
Berapa pun usia anak, menurut Rieny, orangtua harus memberi tahu secara perlahan mengapa mereka harus berpisah. Seperti Ratri yang menjelaskannya setahap demi setahap sesuai dengan perkembangan usiaBram.
"Saya mencoba menjelaskan bahwa kami tidak cocok satu sama lainsehingga berpisah adalah cara yang terbaik," sambungnya. Namun,Ratri juga meyakinkan Bram bahwa anak itu tidak akan pernah kehilangan ayah dan ibunya. Hanya kini ayah dan ibunya tidak tinggal serumah lagi.
Setelah keputusan untuk berpisah itu, kehidupan Ratri tidak mudah.Ia harus kembali membangun kariernya dari awal, tanpa apa pun, kecuali semangat untuk hidup. Kekuatan Ratri ditopang oleh Bram kecil yang selalu berada di sisinya.
Seiring berjalannya waktu, hubungan Ratri dan Pram membaik. Merekaberdua kini seperti teman yang bersama- sama bertanggung jawab membesarkan anak mereka dengan cara mereka sendiri. Hubungan Pramdengan Bram juga semakin dekat. Semakin dewasa, Bram makin memahami siapa ayahnya dan siapa ibunya, yang sampai kini keduanya masih hidup sendiri.
"Suatu hari, sepulang berlibur dengan ayahnya, ia bilang, ’Papa orang baik. Mama juga orang baik. Tapi kalian memang beda’," ujarRatri menirukan Bram.
Upaya untuk menjelaskan situasi yang dihadapi juga dilakukan oleh Nancy (36) terhadap anaknya, Adit (11). Suami Nancy melanjutkan studi ke luar negeri dan kemudian menghilang tanpa berita. Usia Aditwaktu itu masih 1,5 tahun. "Waktu kecil mungkin dia masih tidak tahu karena masih ada eyang kakungnya. Tapi semakin besar, mulai kelas I SD kalau enggak salah, ia mulai bertanya tentang ayahnya," kenang Nancy.Saat itu Adit mendapat tugas untuk membuat pohon keluarga. Namun di kelas, pohon yang dibuat Adit dimasalahkan karena tidak ada ayah disana. Nancy tahu benar kebingungan Adit, yang melihat ada foto perkawinan orangtuanya, tetapi ia tak pernah tahu di mana ayahnya."Tiap tahun ia tanyakan sesuatu yang menyangkut ayahnya. Makin lama pertanyaannya makin sulit dan saya semakin harus hati-hati menjawab.
Tahun ini, misalnya, ia bertanya apakah orang yang memutuskan pergibegitu saja berarti sudah tidak sayang lagi," ungkap Nancy."Saya tidak ingin Adit mewarisi kesakitan saya," lanjut Nancy. Olehkarena itu, ia akan menjelaskannya dengan hati- hati, setahap demisetahap sampai Adit paham betul apa yang dialami ibunya. Nancy juga berusaha membuat Adit memahami dirinya tanpa rasa kecewa dan sedih.Itu tentu bukan tugas yang ringan. Seperti dikatakannya, "Semakin besar dia, semakin tidak mudah ia menerima jawaban saya.". Persoalan terakhir yang ditemui Nancy adalah formulir pendaftaran ulang Adi. "Dari dulu saya tidak pernah mengisi kolom ayah. Tapi sekarang tiba- tiba ada keharusan mengisinya. Padahal buat saya, itu menyangkut soal prinsip. Saya tidak mau mengubur suami saya karena saya tidak tahu ia masih hidup atau sudah meninggal. Saya hanya
ingin mengubur masa lalu saya," kata Nancy.
Ia memahami konsep "kesakralan" keluarga yang dianut banyak orang. Konsep itu pula yang sesungguhnya mendera Adit. "Kalau di kelas ada penjelasan guru menyangkut soal keluarga, misalnya, Adit selalu dicecer," lanjut Nancy.
Beruntung Adit selalu bercerita kepadanya tentang apa saja. "Adit tumbuh seperti anak-anak lainnya. Pintar banget enggak, biasa-biasasaja. Dia menjadi teman saya yang ceria. Kami saling memiliki. Jadi,tidak ada yang harus dikasihani," lanjutnya.
"IDEALNYA anak dari orangtua yang bercerai tidak harus seperti
cermin retak," ujar Rieny.Persoalannya adalah masyarakat di luar lingkungan mereka. Seorang mentor dari pusat pendidikan dan pelatihan suatu kantor mengingatkan pelatih yang lain tentang salah satu dari pegawai baru yang sedang
mengikuti pelatihan. "Dia pandai, tapi agak sulit dan sangatsensitif. Mungkin karena orangtuanya bercerai, dan ia dibesarkanoleh ibunya," begitu antara lain komentar mentor itu.Padahal bisa jadi anak itu sensitif karena ia memang sensitif. "Brampendiam karena ia memang pendiam. Ia lebih mirip saya dibandingkan
ayahnya," ujar Ratri.
Meski demikian, tak bisa dimungkiri bahwa korban dari perceraian orangtua adalah anak-anak. "Mereka bisa menjadi seperti barang yangdiperebutkan," ujar Ratna Juwita, psikolog dari Universitas Indonesia.
Tahapan yang dilewati Bram dan Reza, sampai mereka bisa menerima bahwa yang terbaik bagi orangtua mereka adalah berpisah, memangtidak banyak terjadi.
"Banyak pasangan yang kemudian terus menyimpan rasa kecewa, marah,bahkan dendam. Lalu anak-anak menjadi obyek manipulasi orangtuanyayang saling menyalahkan dan saling merasa benar sendiri," sambungRieny.
Hanya kalau orangtua cukup matang dan bisa mengambil jarak dari pengalaman mereka, anak punya ruang untuk memahami perpisahan orangtuanya.Namun, tetap saja ada bagian dari masyarakat yang "menghukum" anak-anak itu. Anak- anak produk keluarga yang bercerai kerap kali mendapat "label" khusus. "Seakan-akan anak dari keluarga yang bercerai pasti tidak bisa bahagia, pasti begini, pasti begitu,"sambung Ratna.
Menurut Ratna, di AS dan banyak negara maju lainnya, anak yang lahir di luar nikah pun dilindungi penuh oleh undang-undang dan hak-haknya sebagai anak dipenuhi. "Mereka punya hak untuk berkembang secara wajar dan mempunyai kesempatan yang sama terbukanya dengan teman-temannya yang dilahirkan dari orangtua yang lengkap," ujarnya.Di Indonesia anak-anak itu seperti tak hanya diberi label, tetapi juga stigma yang terus dibawa sepanjang hidup. Kemajuan yang diadopsi masyarakat dari Barat hanya dipegang "ujung- ujung"-nya
karena tidak mampu memaknai kesetaraan sebagai manusia. Ketidakmampuan ini dalam banyak hal, ditunjang oleh norma-normatertentu yang masih dikukuhi sebagian besar anggota masyarakat."Setiap generasi di masyarakat kita memegang norma yangberbeda-beda," lanjut Ratna. Dulu, orang hanya bercerai kalausituasinya sudah benar-benar ekstrem. "Orangtua kita selalu mengingatkan, apa pun yang terjadi jangan sampai bercerai. Pada kita juga dicekokkan ’kalau ada masalah di dalam rumah tangga jangan sampai keluar’," sambungnya. Hal-hal seperti ini tak bisa lagi diterapkan secara ketat saat ini karena perubahan pandangan,terutama ketika orang semakin memahami hak-hak asasinya sebagai manusia.
Orang yang dibesarkan dengan norma ketat tentang "kesakralan"keluarga pasti punya pandangan yang sangat khas tentang keluarga danmenjunjung tinggi nilai "harmoni", sekalipun kehidupan di dalamrumah tangga lebih mirip "neraka kecil". Pada generasi itu, pandangan terhadap perkawinan cenderung konvensional. "Sehinggamereka punya anggapan, anak dari keluarga bercerai tidak mungkin
bahagia," kata Ratna. Ratna melihat masih banyak guru dan lingkungan di sekolah yangdibesarkan dengan norma seperti itu. Akibatnya, mereka akan terusberusaha mengorek situasi seorang anak yang orangtuanya bercerai."Mungkin maksudnya baik. Namun sebenarnya justru sangat mengganggu anak itu," sambungnya. Pada banyak keluarga saat ini, khususnya pada keluarga yang cukup berpendidikan, mereka tidak mau menunggu sampai situasi hubungan di dalam keluarga menjadi sangat ekstrem. Kalau perempuan merasa perkawinannya tidak bisa lagi dipertahankan, ia akan berani mengambil keputusan supaya anak tidak terlalu lama menjadi korban dari situasi itu.
"Orangtua yang memutuskan bercerai akan berusaha keras mengurangi dampak negatif perceraian itu terhadap anak- anak mereka," lanjut Ratna. Namun, Rieny punya catatan. "Sebagian besar perempuan yang berani mengambil keputusan adalah mereka yang mandiri secara ekonomi," ujarnya.
Dengan demikian, bukanlah hal yang luar biasa kalau banyak anak merasa lebih bahagia setelah orangtuanya bercerai. Kematangan orangtua dalam menjelaskan persoalan mereka membuat anak merasa tidak kehilangan apa pun dari perceraian orangtuanya, kecuali bentuk rumah tangga yang "berbeda" dibandingkan dengan sebelumnya.Pengalaman Ratri adalah contoh yang paling jelas.Meski demikian, menurut Ratna, setiap keluarga mempunyai kasusnya sendiri-sendiri. "Ada keluarga yang bisa mengelola situasinya setelah perceraian terjadi, ada yang tidak sanggup," ujarnya. Di dalam situasi di mana norma yang baru dan yang lama hidup bersama di masyarakat dengan tingkat pendidikan dan wawasan yang tidak
merata, mana norma yang lebih baik atau lebih buruk tidak relevan lagi dibicarakan. Yang terpenting, menurut Ratna, adalah bagaimana menumbuhkan dan memupuk toleransi."Toleransi bahwa ada keluarga-keluarga yang bentuk kehidupannya berbeda. Ada anak yang punya dua ibu, atau dua ayah, atau dua ayah, dua ibu, atau satu ayah satu ibu tapi berpisah, atau satu ibu tanpa ayah, atau sebaliknya. Tidak ada yang salah pada anak-anak itu,"sambungnya. Ia melanjutkan, "Jangan menilai. Jangan menghakimi. Kita harus belajar menerima pluralisme dari berbagai bentuk kehidupan, seperti kita menerima pluralisme suku, etnis, golongan, agama, ras, dan lain-lain." Nah! (MH)

Oct 4, 2006

Perceraian dan Kesiapan Mental Anak


Mama….kenapa kita sekarang tinggal bersama Kakek dan Nenek? Papa tinggal di mana, Ma? Kasihan ya Papa tinggal sendirian, nggak sama kita lagi. Papa pasti kesepian deh, Ma. Yuk kita tinggal bareng Papa lagi, Adek kangen... deh sama Papa.

Membaca percakapan di atas, tentulah kita sudah bisa membayangkan apa yang merjadi dalam keluarga tersebut. Apalagi kalau bukan perceraian. Angka perceraian di Indonesia mungkin tidak setinggi di Amerika Serikat (66,6% perkawinan berakhir dengan perceraian) ataupun di Inggris (50%), tapi kita tahu bahwa di Indonesia pun banyak perkawinan berakhir dengan perceraian, apalagi kalau melihat berita-berita tentang perceraian selebritis Indonesia akhir-akhir ini.

Kesiapan Anak Menghadapi Perceraian
Perceraian seringkali berakhir menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak. Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis. Menurut Holmes dan Rahe, perceraian adalah penyebab stres kedua paling tinggi, setelah kematian pasangan hidup.

Pada umumnya orangtua yang bercerai akan lebih siap menghadapi perceraian tersebut dibandingkan anak-anak mereka. Hal tersebut karena sebelum mereka bercerai biasanya didahului proses berpikir dan pertimbangan yang panjang, sehingga sudah ada suatu persiapan mental dan fisik. Tidak demikian halnya dengan anak, mereka tiba-tiba saja harus menerima keputusan yang telah dibuat oleh orangtua, tanpa sebelumnya punya ide atau bayangan bahwa hidup mereka akan berubah. Tiba-tiba saja Papa tidak lagi pulang ke rumah atau Mama pergi dari rumah atau tiba-tiba bersama Mama atau Papa pindah ke rumah baru. Hal yang mereka tahu sebelumnya mungkin hanyalah Mama dan Papa sering bertengkar, bahkan mungkin ada anak yang tidak pernah melihat orangtuanya bertengkar karena orangtuanya benar-benar rapi menutupi ketegangan antara mereka berdua agar anak-anak tidak takut.

Kadangkala, perceraian adalah satu-satunya jalan bagi orangtua untuk dapat terus menjalani kehidupan sesuai yang mereka inginkan. Namun apapun alasannya, perceraian selalu menimbulkan akibat buruk pada anak, meskipun dalam kasus tertentu perceraian dianggap merupakan alternatif terbaik daripada membiarkan anak tinggal dalam keluarga dengan kehidupan pernikahan yang buruk.

Jika memang perceraian adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh dan tak terhindarkan lagi, apa tindakan terbaik yang harus dilakukan oleh orangtua (Mama dan Papa) untuk mengurangi dampak negatif perceraian tersebut bagi perkembangan mental anak-anak mereka. Dengan kata lain bagaimana orangtua menyiapkan anak agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi akibat perceraian.

Sebelum Berpisah
Sebelum perceraian terjadi, biasanya didahului dengan banyak konflik dan pertengkaran. Kadang-kadang pertengkaran tersebut masih bisa ditutup-tutupi sehingga anak tidak tahu, namun tidak jarang anak bisa melihat dan mendengar secara jelas pertengkaran tersebut. Pertengkaran orangtua, apapun alasan dan bentuknya, akan membuat anak merasa takut. Anak tidak pernah suka melihat orangtuanya bertengkar, karena hal tersebut hanya membuatnya merasa takut, sedih dan bingung. Kalau sudah terlalu sering melihat dan mendengar pertengkaran orangtua, anak dapat mulai menjadi pemurung. Oleh karena itu sangat penting untuk tidak bertengkar di depan anak-anak.

Ketika Akhirnya Berpisah
Masa ketika perceraian terjadi merupakan masa yang kritis buat anak, terutama menyangkut hubungan dengan orangtua yang tidak tinggal bersama. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam bathin anak-anak. Pada masa ini anak juga harus mulai beradaptasi dengan perubahan hidupnya yang baru.

Hal-hal yang biasanya dirasakan oleh anak ketika orangtuanya bercerai adalah:
tidak aman (insecurity),
tidak diinginkan atau ditolak oleh orangtuanya yang pergi,
sedih dan kesepian,
marah,
kehilangan,
merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab orangtua bercerai.

Perasaan-perasaan tersebut di atas oleh anak dapat termanifestasi dalam bentuk perilaku:
suka mengamuk, menjadi kasar, dan tindakan agresif lainnya,
menjadi pendiam, tidak lagi ceria, tidak suka bergaul,
sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas sekolah sehingga prestasi di
sekolah cenderung menurun,
suka melamun, terutama mengkhayalkan orangtuanya akan bersatu lagi.

Proses adaptasi pada umumnya membutuhkan waktu. Pada awalnya anak akan sulit menerima kenyataan bahwa orangtuanya tidak lagi bersama. Meski banyak anak yang dapat beradaptasi dengan baik, tapi banyak juga yang tetap bermasalah bahkan setelah bertahun-tahun terjadinya perceraian. Anak yang berhasil dalam proses adaptasi, tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika meneruskan kehidupannya ke masa perkembangan selanjutnya, tetapi bagi anak yang gagal beradaptasi, maka ia akan membawa hingga dewasa perasaan ditolak, tidak berharga dan tidak dicintai. Perasaan-perasaan ini dapat menyebabkan anak tersebut, setelah dewasa menjadi takut gagal dan takut menjalin hubungan yang dekat dengan orang lain atau lawan jenis.


Beberapa indikator bahwa anak telah beradaptasi adalah:
menyadari dan mengerti bahwa orangtuanya sudah tidak lagi bersama dan tidak lagi
berfantasi akan persatuan kedua orangtua,
dapat menerima rasa kehilangan,
tidak marah pada orangtua dan tidak menyalahkan diri sendiri,
menjadi dirinya sendiri lagi.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua
Berhasil atau tidaknya seorang anak dalam beradaptasi terhadap perubahan hidupnya ditentukan oleh daya tahan dalam dirinya sendiri, pandangannya terhadap perceraian, cara orangtua menghadapi perceraian, pola asuh dari si orangtua tunggal dan terjalinnya hubungan baik dengan kedua orangtuanya. Bagi orangtua yang bercerai, mungkin sulit untuk melakukan intervensi pada daya tahan anak karena hal tersebut tergantung pada pribadi masing-masing anak, tetapi sebagai orangtua mereka dapat membantu anak untuk membuatnya memiliki pandangan yang tidak buruk tentang perceraian yang terjadi dan tetap punya hubungan baik dengan kedua orangtuanya.

Di bawah ini adalah beberapa saran yang sebaiknya dilakukan orangtua agar anak sukses beradaptasi, jika perpisahan atau perceraian terpaksa dilakukan:
Begitu perceraian sudah menjadi rencana orangtua, segeralah memberi tahu anak bahwa akan terjadi perubahan dalam hidupnya, bahwa nanti anak tidak lagi tinggal bersama Mama dan Papa, tapi hanya dengan salah satunya.

Sebelum berpisah ajaklah anak untuk melihat tempat tinggal yang baru (jika harus pindah rumah). Kalau anak akan tinggal bersama kakek dan nenek, maka kunjungan ke kakek dan nenek mulai dipersering. Kalau ayah/ibu keluar dari rumah dan tinggal sendiri, anak juga bisa mulai diajak untuk melihat calon rumah baru ayah/ibunya.
Di luar perubahan yang terjadi karena perceraian, usahakan agar sisi-sisi lain dan kegiatan rutin sehari-hari si anak tidak berubah. Misalnya: tetap mengantar anak ke sekolah atau mengajak pergi jalan-jalan.

Jelaskan kepada anak tentang perceraian tersebut. Jangan menganggap anak sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, jelaskan dengan menggunakan bahasa sederhana. Penjelasan ini mungkin perlu diulang ketika anak bertambah besar.

Jelaskan kepada anak bahwa perceraian yang terjadi bukan salah si anak.
Anak perlu selalu diyakinkan bahwa sekalipun orangtua bercerai tapi mereka tetap mencintai anak. Ini sangat penting dilakukan terutama dari orangtua yang pergi, dengan cara: berkunjung, menelpon, mengirim surat atau kartu. Buatlah si anak tahu bahwa dirinya selalu diingat dan ada di hati orangtuanya.

Orangtua yang pergi, meyakinkan anak kalau ia menyetujui anak tinggal dengan orangtua yang tinggal, dan menyemangati anak agar menyukai tinggal bersama orangtuanya itu.

Orangtua yang tinggal bersama anak, memperbolehkan anak bertemu dengan orangtua
yang pergi, meyakinkan anak bahwa dia menyetujui pertemuan tersebut dan menyemangati anak untuk menyukai pertemuan tersebut.

Kedua orangtua, merancang rencana pertemuan yang rutin, pasti, terprediksi dan konsisten antara anak dan orangtua yang pergi. Kalau anak sudah mulai beradaptasi dengan perceraian, jadwal pertemuan bisa dibuat dengan fleksibel. Penting buat anak untuk tetap bisa bertemu dengan kedua orangtuanya. Tetap bertemu dengan kedua orangtua membuat anak percaya bahwa ia dikasihi dan inginkan. Kebanyakan anak yang membawa hingga dewasa perasaan-perasaan ditolak dan tidak berharga adalah akibat kehilangan kontak dengan orangtua yang pergi.


Tidak saling mengkritik atau menjelekkan salah satu pihak orangtua di depan anak.

Tidak menempatkan anak di tengah-tengah konflik. Misalnya dengan menjadikan anak sebagai pembawa pesan antar kedua orangtua, menyuruh anak berbohong kepada salah satu orangtua, menyuruh anak untuk memihak pada satu orangtua saja. Anak menyayangi kedua orangtuanya, menempatkannya di tengah konflik akan membuatnyabingung, cemas dan mengalami konflik kesetiaan.


Tidak menjadikan anak sebagai senjata untuk menekan pihak lain demi membela dan mempertahankan diri sendiri. Misalnya mengancam pihak yang pergi untuk tidak boleh lagi bertemu dengan anak kalau tidak memberikan tunjangan; atau tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan anak supaya pihak yang pergi merasa sakit hati,sebagai usaha membalas dendam.

Tetap mengasuh anak bersama-sama dengan mengenyampingkan perselisihan.

Memperkenankan anak untuk mengekspresikan emosinya. Beresponlah terhadap emosi anak dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan atau celaan. Anak mungkin bingung dan bertanya, biarkan mereka bertanya, jawablah pertanyaan tersebut baik-baik, dan bukan mengatakan "anak kecil mau tahu saja urusan Mama Papa".

Dari saran-saran di atas terlihat jelas betapa pentingnya kerja sama orangtua agar anak dapat beradaptasi dengan sukses dan betapa penting arti keberadaan orangtua bagi sang anak. Saran-saran di atas bukanlah hal yang mudah dilakukan, apalagi jika perceraian diakhiri dengan perselisihan, ketegangan dan kebencian satu sama lain. Keinginan untuk menarik anak ke salah satu pihak dan menentang pihak yang lain akan sangat menonjol pada model perceraian tersebut. Tapi jika itu dilakukan, berarti orangtua sungguh-sungguh merupakan individu egois yang hanya memikirkan diri sendiri, dan tidak memikirkan kesejahteraan dan masa depan anak. Mungkin ada yang berpikir "Anak saya baik-baik saja kok, dia tidak apa-apa meskipun tidak ada ibunya/ayahnya. Lihat dia ceria-ceria saja, badannya sehat, sekolahnya juga rajin". Tapi tahukah Anda apa sebenarnya yang ada dalam hati sang anak?

Kalau perceraian memang tak terhindari lagi, maka mari membuat perceraian tersebut menjadi perceraian yang tidak merugikan anak. Suami-istri memang bercerai, tapi jangan sampai anak dan orangtua ikut juga bercerai. Anak-anak sangat membutuhkan cinta dari kedua orangtua dan menginginkan kedua orangtuanya menjadi bagian dalam hidup mereka. Bagi anak, rasa percaya diri, rasa diterima dan bangga pada dirinya sendiri bergantung pada ekspresi cinta kedua orangtuanya. Bagi Anda yang akan, sedang atau telah bercerai, cobalah untuk selalu mengingat hal tersebut dan masa depan anak-anak Anda. Perhatian berupa materi memang perlu, namun itu saja sangat tidak memadai untuk membuat anak mampu beradaptasi dengan baik. Jangan lagi menjadikan negeri ini semakin carut marut dengan membiarkan anak-anak kita yang tidak berdosa menjadi terlantar. (jp)

Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi. Jakarta, 18 April 2002

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails