Showing posts with label orang tua tunggal. Show all posts
Showing posts with label orang tua tunggal. Show all posts

Jun 8, 2012

Yang Harus Diperhatikan Saat Memutuskan Bercerai & Jadi Single Mom

Jakarta - Bercerai tentu bukan hal yang diinginkan siapapun. Tapi ketika sudah menjadi pilihan yang memang tidak bisa dihindarkan, ada hal yang harus dipersiapkan atau diperhatikan. Wolipop berbincang dengan tiga penulis buku The Single Moms, Budiana Indrastuti, Mia Amalia, Ainun Chomsun. Ketiganya berbagi kisah sedih, haru dan membahagiakan selama menjalani hidup sebagai single mom dalam buku yang sudah dirilis tersebut. Budiana atau yang akrab disapa Dian, Mia dan Ainun berbagi cerita pada wolipop apa yang dulu mereka lakukan ketika mau tidak mau harus menjalani hidup sebagai orangtua tunggal. Menurut Ainun yang paling penting untuk dipersiapkan adalah mental.

"Buat saya yang paling penting (dipersiapkan-red) mental. Ketika saya lagi marah-marahnya, marah aja terus. Sampai mentalnya lebih baik, baru kita bisa lihat ooo jalannya begini. Soalnya kalau pas lagi jengkel, menurut saya harusnya dipikir ulang karena cerai belum tentu jalan terbaik," urai wanita yang dikenal dengan nama pasarsapi di Twitter itu saat berbincang dengan wolipop di Reading Room, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (6/6/2012).

Ketika mentalnya sudah lebih baik, Ainun mengatakan dia bisa melihat dengan lebih jernih. Ibu satu anak itu dapat memikirkan dan mempertimbangkan berbagai hal seperti tempat tinggal hingga urusan finansial.

Selain mental, dukungan keluarga menurutnya juga hal yang diperlukan wanita ketika memutuskan menjadi orangtua tunggal. "Mereka yang akhirnya mengganti sisi yang bolong. Kalau saya, ada ibu dan kakak saya. Backup itu sebaiknya harus ada entah saudara, teman," tuturnya.

Sementara Dian, dikatakannya, hal yang tidak boleh dilupakan single mom ketika memutuskan untuk berpisah dari pasangan adalah mengurus surat cerai. Terkadang karena tidak mau dibuat susah, wanita memilih melewati proses persidangan untuk mendapatkan surat 'sakti' tersebut.

"Surat cerai itu penting karena di sini perempuan masih dianggap nomer dua. Saya ngurus kredit rumah, mobil, paspor anak harus dengan surat cerai. Kenapa mesti harus ada surat cerai. Ternyata kalau wanita menikah pun harus ada persetujuan dari suami untuk mengambil kredit-kredit itu," jelas Dian yang juga menuliskan tentang pentingnya keberadaan surat cerai ini dalam buku 'The Single Mom'.

Menambahkan dua rekannya, menurut Mia yang juga tak kalah pentingnya adalah bicara pada anak, terutama jika usia mereka sudah cukup besar. "Kalau mental kan urusan sama diri sendiri. Kalau ngomong ke anak-anak, kita berhubungan sama orang lain. Untungnya tanpa perlu kita ngomong, kita nggak ada yang berubah, bapaknya bisa tetap datang," ujar ibu empat anak itu.

(eny/fer) sumber: http://wolipop.detik.com/read/2012/06/08/102046/1936045/857/ini-tantangan-terberat-yang-harus-dihadapi-single-mom

Tips Menghadapi Stigma Negatif untuk Para Wanita Bercerai

Jakarta - Stigma negatif kerap menempel pada seorang single mother. Tidak mampu mengurus suami dengan baik, mementingkan diri sendiri bahkan sering dicap terlalu menuntut suami sehingga jadi penyebab keretakan rumah tangga.
Dalam kasus perceraian, wanita memang seringkali dicap sebagai pihak yang lebih bersalah. Padahal, terjadinya keretakan rumah tangga datangnya dari kedua belah pihak. Anggapan negatif tentang single mom pun pernah mampir ke diri Ainun Chomsun. Ibu satu anak ini bahkan sempat menghindari pertemuan keluarga besarnya karena enggan melayani berondongan pertanyaan seputar penyebab perceraian dirinya dengan sang mantan suami.
"Di awal saya menghindari, tidak mau bergaul di titik yang tidak aman (lingkungan dengan stigma negatif). Stigma itu bikin energi saya habis untuk melayani mereka. Setelah dua tahun baru saya keluar, sudah mulai mau bergaul lebih banyak," ujar Ainun, saat berbincang dengan wolipop di The Reading Room, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (6/6/2012).
Lalu, bagaimana Ainun menghadapi berbagai stigma negatif yang datang kepadanya? Menurut salah satu penulis buku 'The Single Moms' ini, seseorang tidak bisa mengontrol lingkungan agar berjalan seperti keinginannya. Untuk itu, manusia itu sendirilah yang harus pintar-pintar mengantisipasi keadaan yang mungkin terjadi.
"Lingkungan sesuatu yang tidak bisa dikontrol, tapi saya bisa memilih lingkungan mana yang bisa saya masuki," tegas Ainun.
Bagi para single mom di luar sana yang juga kerap mendapatkan stigma kurang enak didengar, Ainun menyarankan untuk tidak mempedulikannya. Tapi tentunya harus siap dengan keadaan terburuk yang mungkin terjadi.
"Kalau sudah siap hadapin saja. Kalau nggak siap, tinggalkan. Saya pernah dicap 'sepa'. Orang ngomong apa, saya tinggal. Risikonya saya dicap orang yang tidak ramah," tuturnya.

Senada dengan Ainun, Mia Amalia yang juga seorang single mom pun memilih untuk tidak menggubris perkataan orang yang mungkin hanya tahu masalah di permukaannya saja. Untungnya, wanita yang mengaku suka 'ndableg' ini selalu mendapat dukungan dari ibunya. Sang ibu menegaskan, selama dia tidak menyakiti dan mengambil hak orang lain, tidak perlu mendengarkan omongan negatif dari sekitar.
"Mereka boleh bilang hidup saya gagal, tapi lihat deh anak-anak saya. Nggak penting mau ngomong apa, tapi lihat saja siapa yang lebih baik. Kadang (saya bersikap) masa bodo, kadang aku balikin. Happy dan nggak terlalu ambil pusing apa kata orang," ujar Mia.

Tak hanya ibu, stigma negatif juga bisa dialami anak. Seringkali anak yang berasal dari keluarga broken home merasa malu atau tidak percaya diri karena adanya ejekan atau pandangan negatif dari teman sebaya. Apakah benar anak yang dibesarkan orangtua tunggal lebih rentan terkena masalah psikologis dibandingkan yang keluarganya utuh?
Jawabannya tidak selalu. Psikolog Efnie Indrianie, M.Psi menjelaskan, anak yang mendapatkan cukup perhatian dari kedua orangtuanya meskipun sudah bercerai, kecil kemungkinan menjadi depresi, malu atau pendiam di lingkungan sekolah maupun pertemanan.
"Rata-rata anak yang cukup menerima perhatian dari orangtuanya, biasanya tidak akan bermasalah dengan komentar-komentar yang menyudutkan status keluarganya. Karena kebutuhan akan figur orangtua sudah terpenuhi," tutur Efnie, saat dihubungi wolipop, Kamis (7/5/2012).

Dia menjelaskan, yang membuat emosi seorang anak tidak stabil, adalah jika salah satu orangtua menjelekkan figur orangtua lainnya. Ketika harus bercerai dan hidup berpisah, orangtua harus sebisa mungkin menanamkan pandangan-pandangan positif. Baik itu tentang figur ayah dan ibu, keluarga lainnya maupun meyakinkan si anak kalau dia tetap akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama seperti sebelum orangtuanya bercerai.
Sumber:
http://wolipop.detik.com/read/2012/06/08/142213/1936343/857/tips-menghadapi-stigma-negatif-untuk-para-wanita-bercerai?w992201835

Do's & Don'ts Jadi Ibu yang Tak Bersuami

Jakarta - Menjalani hidup sebagai single mom tentu tidak mudah. Namun bukan berarti ketika jalan itu harus dipilih, wanita tak bisa melakukannya. Saat kehidupan menjadi orangtua tunggal itu harus dijalani, apa saja yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan? Berikut ini hasil perbincangan wolipop dengan penulis buku 'The Single Moms', Budiana Indrastuti, Mia Amalia dan Ainun Chomsun, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (6/6/2012):  

1. Don'ts: Terpuruk Terlalu Lama 
Ainun mengatakan ketika memutuskan berpisah dari pasangan sudah pasti Anda akan merasa sangat terpuruk. "Boleh sih jatuh, tapi jangan terlalu lama. Ketika terpuruk lama, anak juga dalam proses terpuruk. Dia jadi bingung, aku ke siapa nih, bapak nggak ada, ibu nggak stabil, ini bahaya," jelas wanita yang dikenal dengan nama akun pasarsapi di Twitter itu.  

2. Don'ts: Menyalahkan Diri Sendiri 
Ketika sudah bercerai, biasanya wanita akan sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Hal itupun diakui Ainun. Sebelum bertekad bulat berpisah, dia sudah melakukan hal tersebut. Namun perasaan itu tidak dibiarkannya berlarut-larut. "Jangan membuat keluarga kayak target. Kita selalu menganggap (perceraian) ini kegagalan, seakan-akan sebuah target yang tidak tercapai, gagal. Saya selalu menganggap ini pelajaran buat saya untuk menjadi orang yang bagaimana nantinya," tutur ibu seorang putri itu.

3. Don'ts: Menjadikan Anak Pion yang Harus Berpihak
Cukup banyak pasangan yang ketika bercerai membuat anak-anaknya terpaksa memilih di antara dua orang yang sama-sama mereka cintai. Hal inilah yang menurut Mia sebaiknya jangan dilakukan. "Siapapun yang salah, yang lebih penting anak-anak tidak ikut dalam pertarungan ini. Aku tidak mau anak-anak harus menjadi pion yang berpihak," ujar ibu empat anak itu.  

4. Don'ts: Menjelek-jelekkan Mantan Pasangan di Depan Anak 
Selain tidak ingin anaknya menjadi pion yang harus berpihak pada salah satu orangtuanya, Mia juga berusaha untuk tak menjelek-jelekkan mantan suaminya kepada anak-anak. "Orangtua, ibu dan bapak harus tetap jadi sosok yang baik dibanggakan. Aku sudah wanti-wanti ke ibuku, nggak boleh ngomong jelek tentang bapaknya anak-anak," tuturnya. Apa yang dikatakan Mia itu sejalan dengan saran psikolog Efnie Indrianie. Menurutnya, single mom dan single dad harus mampu mengontrol kata-katanya ketika membicarakan mantan pasangan. "Jangan menanamkan nada miring tentang figur ayah di hadapan anak. Kalaupun ayah negatif, biarkan ketika anak sudah dewasa menilai sendiri," ujar psikolog yang mengajar di Universitas Kristen Maranatha, Bandung itu saat berbincang dengan wolipop Kamis (7/6/2012).
  
5. Don'ts: Menyembunyikan Masalah
Budiana atau yang akrab Dian pernah melakukan kesalahan ini. Dia pernah bersembunyi dari masalahnya, saat harus menghadapi hari-hari di mana anaknya mengikuti suatu kegiatan di sekolah dan diperlukan kehadiran sosok ayah. Ibu seorang putra yang kini hampir berusia delapan tahun itu merasa dia harus menghadirkan kesempurnaan untuk anaknya. "Aku cari stunt man lah. Tapi setelah dipikir-pikir banyak jua yang ayahnya nggak datang. Saya aja yang bersembuyi di masalah saya, panik sendiri, padahal anaknya baik-baik saja," katanya. Dian juga mengisahkan, setelah buku The Single Mom dirilis, banyak wanita-wanita di kantornya yang kemudian mau membuka diri dan mengaku sebagai orangtua tunggal. "Mereka mengakui dengan membuka diri itu menyenangkan mereka. Ketika berhasil bercerita mereka senang," ujar wanita yang pernah menjadi managing editor majalah gaya hidup itu.

6. Do's: Selalu Libatkan Anak Dalam Pengambilan Keputusan 
Mia selalu berusaha mengikutsertakan anak-anaknya dalam pengambilan keputusan terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan mereka. Menurutnya cara itu efektif agar anak tidak merasa terpaksa saat menjalankan keputusan tersebut. "Aku melatih mereka menjadi anak-anak yang nggak cuma terima sebuah keputusan, tapi ngejalaninnya sambil ngedumel," kata ibu empat anak yang merupakan penulis skenario sinetron 'ABG' itu.

7. Do's: Satu Suara dengan Mantan Pasangan 
Pembagian waktu bertemu anak pastinya jadi hal yang tak mungkin dilewatkan ketika para single mom memutuskan berpisah dengan pasangannya. Ketika anak bersama ayahnya ini, menurut Ainun, mantan suaminya harus memiliki satu suara dengannya dalam beberapa hal. Misalnya saja dulu dia dan mantan suaminya sepakat untuk tidak memberitahu putri mereka kalau sang ayah sudah menikah lagi karena saat itu usia sang anak masih terlalu belia. "Supaya anak nggak bingung. Setelah sekarang sudah besar, sudah ngerti ya sudah," jelas Ainun.

sumber :http://wolipop.detik.com/read/2012/06/08/104552/1936078/857/dos-donts-jadi-ibu-yang-tak-bersuami?w992201835

Oct 15, 2009

Tetap Bahagia Menjadi Orangtua Tunggal

Jakarta, Kadang menjadi orangtua tunggal bisa membuat seseorang menjadi sangat sibuk sehingga agak sedikit melupakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Namun tidak selamanya menjadi orangtua tunggal tidak menyenangkan, ada beberapa hal yang bisa membuat seseorang tetap bahagia menjadi orangtua tunggal.


Orangtua tunggal bisa tetap bahagia menjalani hidup ini dengan tetap menggunakan pendekatan yang positif. Dengan menjadikan hal-hal positif dalam hidup sebagai pemicunya, maka kebahagian tersebut juga bisa didapatkan. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua tunggal agar tetap bisa bahagia, seperti dikutip dari eHow, Jumat (16/10/2009) yaitu:


1. Fokus pada anak-anak. Jika anak-anak adalah pusat kehidupan Anda dengan sendirinya anak-anak tersebut akan mengetahui dan merespons apapun yang terjadi pada diri orangtuanya. Jika anak melihat orangtua merasa trauma, tidak nyaman atau tidak aman sendirian, anak-anak juga akan bisa merasakan hal yang sama. Jadi cobalah untuk menikmati hidup agar sama-sama bisa merasakan kebahagiaan.


2. Mengenal diri sendiri. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengenal diri sendiri dan merasa nyaman dengan kesendirian. Tinggalkan segala pikiran yang negatif tentang kesendirian dan berlatihlah untuk merasa cukup nyaman dengan diri sendiri saat pergi keluar rumah. Lebih baik berpikir bahwa Anda merasa lebih suka tidak ada hubungan sama sekali dibandingkan dengan berada dalam hubungan yang buruk.


3. Libatkan anak-anak dalam mencerminkan peran orangtua yang hilang. Dalam hal ini bukan berarti harus menemukan pengganti dari seorang ibu atau ayah, tapi bisa dengan membuat anak dekat dengan paman, bibi atau kakek dan nenek untuk mengisi kekosongan salah satu peran orangtua.


4. Biarkan anak-anak tahu bahwa dirinya dapat melengkapkan hidup Anda. Jika Anda percaya bahwa Anda bisa tetap bertahan tanpa seorang laki-laki atau perempuan disamping Anda, maka anak-anak pun akan mempercayai itu. Karena anak adalah cerminan dari apa yang dirasakan oleh orangtuanya, jika suatu saat menemukan seseorang maka itu bisa menjadi sebuah bonus bagi Anda dan anak-anak.


5. Memahami bahwa Anda tidak bisa menjadi segalanya bagi anak-anak. Dengan memahamai hal tersebut akan membuat orangtua tunggal merasa tidak terlalu tertekan, namun bukan berarti anak-anak tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang sempurna. Kasih sayang bisa didapatkan dari saudara atau orang-orang yang dekat dengan Anda.


penulis:Vera Farah Bararah - detikHealth

Sumber: http://health.detik.com/read/2009/10/16/120222/1222659/764/tetap-bahagia-menjadi-orangtua-tunggal


Oct 20, 2006

Perempuan Orangtua Tunggal, Bukan "Trend" tetapi Pilihan Nasib

oleh : Maria S Ratri
MENJADI orangtua tunggal bagi seorang perempuan kebanyakan adalah lebih merupakan pilihan nasib. Sama sekali tidak tepat dinyatakan sebagai trend (kecenderungan) hanya karena segelintir artis menjalaninya dengan terbuka. Hal ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan karena menjadikan status orangtua tunggal sebagai kecenderungan dapat memberi pengaruh kurang baik bagi generasi muda.
Lagi pula, bagaimana dapat dinyatakan sebagai suatu trend bila sebagian besar perempuan (biasa) yang mengalaminya mengambil keputusan tersebut lebih karena situasi-kondisi yang sering kali di luar kendali dan harapannya sehingga "memaksa" perempuan cepat mengambil keputusan yang dirasanya terbaik. Terbaik untuk saat itu, baginya dan anak(-anak)-nya, juga dalam menghadapi masa mendatang.
Bagaimana bisa disebut sebagai trend di dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi norma sosial (setidaknya di permukaan) jika kenyataannya adalah nasib yang harus dijalani perempuan kebanyakan karena pilihannya sudah sangat terbatas. Tak jarang nyawa adalah taruhannya.
Untuk lebih memahami pilihan perempuan menjadi orangtua tunggal, ada baiknya juga bila kita mengerti bahwa pilihan tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu yang sama sekali tidak pernah menikah dan yang sempat/pernah menikah.
Yang tidak pernah menikah dapat dibedakan menjadi yang memang ingin punya anak tanpa menikah, dan yang terpaksa tidak menikah karena ayah sang anak tidak mau bertanggung jawab. Sementara untuk yang bercerai terbagi atas yang masih menjalin hubungan baik dengan mantan suami sehingga anak tidak kehilangan figur ayah, dan yang benar-benar putus hubungan, tidak dipedulikan lagi oleh mantan suami.
Perbedaan dua kategori ini secara umum tidak terasa karena intinya adalah sama: perempuan menjadi orangtua tunggal. Namun, bila didalami sedikit banyak akan tampak bedanya.
BAGI perempuan yang memilih punya anak tanpa menikah, secara lahir batin ia siap dengan segenap konsekuensi yang akan dihadapi. Keluarganya pun telah mempersiapkan mental dan emosional mereka masing-masing, termasuk dalam menjelaskan pilihan tersebut kepada masyarakat sekitar.
Pada perempuan yang terkaget-kaget karena kekasihnya menolak bertanggung jawab namun ia sendiri tetap ingin membesarkan anaknya, trend sama sekali tidak terlintas di kepalanya. Rasa bersalah dan rasa tidak ingin menambah dosa yang ada dengan melakukan aborsi lebih mendominasi pikirannya.
Reaksi orangtua dan saudara dengan risiko dikucilkan sementara ataupun selamanya, teman, tetangga, dan rekan kerja, belum lagi status hukum sang anak kelak dan stigma masyarakat, menjadi beban luar biasa berat. Tetapi, niat untuk tidak berlarut-larut dalam kesalahan sambil tetap berharap siapa tahu ayah sang bayi dalam kandungannya sadar dan bertanggung jawab membulatkan tekadnya untuk maju terus memelihara kandungannya.
Urusan menikah atau tidak itu urusan Tuhan, yang penting bagaimana ia mempersiapkan dirinya secara utuh fisik, mental, emosional, dan finansial, menghadapi masa kini dan masa depan bersama buah hatinya, dalam lingkup kecil keluarga terlebih dalam lingkungan masyarakat luas. Butuh kekuatan hati dan daya juang tinggi untuk menjalani semua itu, termasuk mengikis rasa dendam kepada si lelaki dan membuktikan kepada lingkungan sekitar bahwa ia mampu.
Belum lagi bila kelak ia ingin menikah. Sekalipun calon suami menerimanya, dapatkah keluarga calon menerima keberadaan seorang menantu yang tidak pernah menikah namun telah punya anak? Bersediakah calon mertua menjelaskan kepada sanak saudara, teman, dan tetangga bahwa sang menantu terpaksa tidak menikah karena si pria menolak bertanggung jawab walau telah menghasilkan anak? Seorang teman sampai merasa para calon mertua pasti lebih memilih janda yang jelas-jelas memiliki bekas suami daripada perempuan punya anak tanpa bekas suami. Namun, ia menyadari, semua ini adalah risiko pilihan hidup yang dijalaninya.
Pada perempuan yang pernah menikah lalu bercerai, siap atau tidak, predikat janda dengan anak(-anak) akan disandangnya. Bila hubungan dengan mantan suami dan keluarganya baik, masalah figur ayah juga kebutuhan hidup sehari-hari bagi anak sedikit banyak teratasi. Kehadiran ayah bukan hanya secara fisik, masih dapat dirasakan anak dan lingkungan sekitar pun melihat kenyataan keberadaan sosok ayah sekalipun telah bercerai dari sang ibu tetapi tetap menjadi bagian dalam hidup anak. Namun, bila hubungan tersebut berantakan dan tanpa dukungan memadai dari pihak keluarga perempuan, maka sang anak pun harus siap ikut menanggung akibatnya.
Sama dengan situasi perempuan orangtua tunggal yang tidak menikah, anak-anak janda ini pun akan ditanyai keberadaan (bukan hanya fisik) ayahnya. Perbedaan antara yang menikah dan tidak salah satunya adalah kejelasan keberadaan ayah dan status hukum yang terkait dengan hal tersebut dalam akta kelahiran. Selain pertanyaan seperti, "Ayahmu pernah telepon tidak?" atau "Ayahmu pernah ngasih apa aja buat kamu?" Juga, "Lho, kenapa ayahmu tidak mau tinggal sama kamu lagi?"
Jelaslah bagi anak dari perempuan orangtua tunggal, terlebih bila anak bersekolah di sekolah biasa dan bukan sekolah kurikulum internasional yang biasanya tidak mempermasalahkan hal ini, tekanan yang dihadapi anak tidak ringan. Selain secara pribadi ia menyaksikan anak-anak lain memiliki ayah-ibu yang tampak bersama-sama dalam acara-acara tertentu sekolah, dalam lingkungan sekolah dan pertemanannya pun ia akan ditanyai keberadaan ayahnya. Sekali-dua sosok ayah tidak hadir masih dapat dimaklumi, tetapi bila setiap kali hanya berdua dengan ibu, maka pertanyaan mengenai ayah tanpa sungkan akan diajukan.
Belum lagi bila teman-teman sebaya ribut membanggakan kelebihan ayah masing-masing. Figur ayah macam apa yang dapat ia banggakan? Sekadar foto-foto seorang pria, baik sendirian maupun bersama ibunya (ataupun juga dengan sang anak bila kedua orangtuanya sempat menikah), di masa entah kapan? Bagi seorang ibu, hal-hal yang menyangkut dan melukai perasaan anaknya sungguh terasa lebih menghunjam daripada gosip tetangga dan rekan kerja tentang dirinya.
ANAK dari perempuan orangtua tunggal dapat tumbuh sehat jasmani dan rohani, moril dan materiil atas dukungan keluarga inti dan keluarga besar, juga lingkungan yang menerima, tetapi semua itu memerlukan proses yang tidak semenarik ilusi sulap.
Akhir kata, marilah kita galakkan pemahaman bahwa menjadi orangtua tunggal adalah pilihan hidup yang tidak mudah, namun tetap harus dihargai sebagai suatu bentuk kekuatan perempuan yang dapat dibanggakan, bukannya trend layar kaca yang ingar-bingar. Di balik keputusan tersebut terkandung permasalahan yang kompleks dan perjuangan amat berat bagi perempuan kebanyakan yang tidak mungkin dibahas secara gamblang di media apa pun.
(Maria S Ratri Orang tua tunggal tinggal di Surabaya)
sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/16/swara/1750567.htm

Jika Harus Berpisah... Menjadi Orang tua Tunggal

Siapa pun pasti tak pernah berharap menjadi orang tua tunggal (single parent). Keluarga yang lengkap dan utuh merupakan idaman setiap orang. Namun, adakalanya nasib berkata lain. Menjadi single parent dalam sebuah rumah tangga tentu saja tidak mudah. Terlebih, bagi seorang isteri yang ditinggalkan suaminya, karena meninggal atau bercerai. Paling tidak, dibutuhkan perjuangan berat untuk membesarkan si buah hati, termasuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Meski menjadi orangtua tunggal terbilang tak mudah dijalani, namun sangat banyak wanita yang menjadi ibu sekaligus kepala keluarga, tetap sukses membesarkan anak-anaknya. Pengalaman sukses menjadi single parent telah ditempuh, mantan peragawati Titi Qadarsih, walau harus mengalami pasang surut yang tak terkirakan untuk mengantar anak-anaknya ke masa depan.
Titi menjadi single parent setelah ditinggal sang suami untuk selama-lamanya pada 1996. Sejak itu ia mengaku semakin mendekatkan diri pada Allah SWT sebagai sumber kekuatan dirinya. ''Ternyata mendidik anak tidak hanya membutuhkan keuletan dan kesabaran, tapi juga harus ada bimbingan dari Yang Di Atas,'' tutur Titi. Titi pun merasa harus melakukan segala sesuatunya sendiri, yakni menjadi kepala keluarga sekaligus ibu bagi anak-anak. Ibu dua anak ini mengakui sejak ditinggal sang suami, kehidupan yang harus dilaluinya terasa lebih berat, terutama menyangkut perannya sebagai orangtua tunggal yang harus membesarkan dua anaknya.
Cobaan demi cobaan harus dilaluinya sendirian. Artinya, dari menghadapi masalah hingga menyelesaikan masalah anak-anak lebih banyak harus dipikirkan dan dilakukannya sendiri. Dengan ketelatenan dan doa yang selalu dipanjatkan ia merasa kerap kali cobaan itu berhasil dilaluinya. ''Alhamdulillah, dengan ketelatenan dan berserah diri kepada Allah, cobaan yang menimpa keluarga saya akhirnya bisa teratasi,'' ujar Titi. Menurut mantan peragawati ini, setiap orang pasti pernah menghadapi persoalan berat dalam hidupnya. Persolaan itu, sambungnya, bisa menjadi berat dan bisa pula menjadi ringan tergantung setiap orang menyikapinya. ''Semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Kuncinya, asal mau selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,'' katanya.
Anak masalah terberatPakar ahli jiwa AS, Dr Stephen Duncan, dalam tulisannya berjudul The Unique Strengths of Single-Parent Families mengungkapkan, pangkal masalah yang sering dihadapi keluarga yang hanya dipimpin orangtua tunggal adalah masalah anak. Anak, paparnya, akan merasa dirugikan dengan hilangnya salah satu orang yang berarti dalam hidupnya. ''Hasil riset menunjukkan bahwa anak di keluarga yang hanya memiliki orangtua tunggal, rata-rata cenderung kurang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik dibandingkan aanak yang berasal dari keluarga yang orangtuanya utuh,'' terangnya.
Menurut Duncan, keluarga dengan orangtua tunggal selalu terfokus pada kelemahan dan masalah yang dihadapi. Ia berpendapat, sebuah keluarga dengan orangtua tunggal sebenarnya bisa menjadi sebuah keluarga yang efektif, laiknya keluarga dengan orangtua utuh. Asalkan, mereka tak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya. ''Melainkan, harus secara sadar membangun kembali kekuatan yang dimilikinya,'' katanya. Sedangkan, Stephen Atlas, pengarang buku Single Parenting, menuliskan, jika keluarga dengan orangtua tunggal memiliki kemauan untuk bekerja membangun kekuatan yang dimilikinya, itu bisa membantu mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dengan begitu, Duncan menyambung, ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari upaya itu bagi si orangtua maupun anak-anaknya. ''Dengan begitu, sebenarnya bukan sebuah halangan bagi wanita yang menjadi single parent untuk mendidik dan memelihara keluarganya,'' katanya. Apalagi ada sebuah kajian psikologi yang menyatakan bahwa wanita bisa lebih kuat menghadapi perpisahan, baik itu kematian maupun perceraian dengan pasangan, ketimbang laki-laki. Wanita semestinya lebih tahan menderita karena secara sunnahtullah ia terlatih untuk 'kuat' menghadapi darah menstruasi di awal balighnya, hamil, dan melahirkan. Sementara, di usia baligh yang sama, anak laki-laki mungkin masih bermain-main. Namun, paparan ini bukan menjadi alasan untuk mudah memutuskan menjadi orang tua tunggal, apalagi karena perceraian. - (hri/ berbagai sumber )
Sumber: http://www.republika.co.id

Oct 4, 2006

Tips: Piawai Menjadi Orangtua Tunggal


Salah satu persoalan bagi orang tua tunggal adalah mengatur waktu antara mencari nafkah dan mengawasi keseharian anak. Bekerja paruh waktu merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah itu. Dengan cara itu,Anda dapat mengawasi anak selama waktu-waktu istirahat, sekaligus bekerja. Saat ini ada banyak lapangan pekerjaan yang flexibel.

Anda dapat bekerja sementara anak Anda bersekolah, dan Anda bisa pulang saat anak belum tiba di rumah. Anda bisa juga memilih pekerjaan/freelance/ yang dapat dilakukan dari rumah, jadi pastikan menggalisemua kemungkinan untuk membuka peluang usaha.

Atau Anda bekerja hanya hari Senin, Rabu dan Jumat saja. Bisa juga pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Selain itu Anda bisa juga mengatur usaha hanya pada pagi atau sore saja. Yang jelas, Anda dituntut untuk menjadiorang yang kreatif dan fleksibel dalam mengelola waktu kerja.

*Tepat pilih pengasuh*.
Menjadi orang tua tunggal, tentu akan memotong waktu kebersamaan Anda dengan anak. Karena waspadai orang-orang yang berpengaruh terhadap keberadaan anak-anak. Yang jelas jangan pernah membiarkan anak-anak sendirian di rumah. Jika ada ibu Anda, tentu tak masalah. Tapi jika tidak, Anda perlu untuk mencari pengasuh bagi anak Anda. Namun perlu Anda perhatikan, sikap dan komitmen seperti apa yang dia miliki dalam mengasuh anak Anda. Gaya dan sikap hidup seperti apa yang mereka miliki? Anda perlu tahu juga hal-hal seperti apa yang diizinkan pengasuh anak-anak? Dengan begitu Anda tetap bisa memantau perkembangan anak.

*Anak sebagai sahabat.*
Sesibuk apa pun, Anda harus tetap bisa menjalin komunikasi dengan anak. Manusia sanggup mencintai dan dicintai; iniadalah hal penting bagi pertumbuhan kepribadian. Kehangatan persahabatan, ketulusan kasih sayang, dan penerimaan orang lain amat
dibutuhkan manusia. Anak sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kasih sayang yang tak terpenuhi akan menimbulkan perilaku anak kurang baik. Anak akan menjadi agresif, kesepian, frustrasi, bahkan mungkin bunuh diri. Maka Anda perlu berkomunikasi dengan anak, agar dia tidak merasa kesepian. Anda bisa mendengarkan cerita anak, dan sebaliknya Anda juga menceritakan apa yang sedang Anda alami. Jadikanlah anak sebagai sahabat.

*Rileks dan gembira.*
Setiap orang memerlukan waktu spesial untuk menyendiri. Ini juga yang nyata-nyata dibutuhkan orang tua tunggal. Berkorban bagi anak-anak akan meningkatkan kualitas hubungan Anda dan anak. Namun Anda perlu juga memikirkan waktu untuk Anda sendiri.Seseorang akan lebih dapat menahan amarah dan menjadi lebih sabar jika
punya waktu untuk merefleksi dirinya atau mengendurkan syaraf-syaraf otak. Beberapa ibu tunggal memiliki kecenderungan mudah merasa bersalah, jika mereka mempunyai waktu untuk bergembira dan menikmati hidup. Padahal suasana itu sangat penting untuk menjaga emosi Anda. Jadi jangan beranggapan bahwa Anda terlalu memanjakan diri, jika sekali waktu Anda bergembira atau /refreshing/. Ingat jangan merasa bersalah jika Anda
bergembira. Karena itu baik untuk pengasuhan anak Anda. Waktu istirahat yang cukup, rileks, termasuk rekreasi akan menjaga kenyamanan keluarga Anda.

*Jangan ceraikan anak.*
Menurut psikolog yang banyak menangani masalahpernikahan, Dra Sawitri Sapardi Sadarjoen, Anda perlu meyakinkan anak bahwa orang tua tetap mencintai anak meski telah bercerai. Istri yang tinggal bersama anak harus memperbolehkan anak bertemu dengan ayah kandungnya. Yakinkan padanya, Anda menyetujui pertemuan tersebut dan
menyemangati anak untuk menyukai pertemuan tersebut.
Selain itu, anda bisa merancang rencana pertemuan yang rutin, pasti, terprediksi, dan konsisten antara anak dan orang tua. Kalau anak sudah mulai beradaptasi dengan perceraian, jadwal pertemuan bisa dibuat dengan fleksibel. Penting buat anak untuk tetap bisa bertemu dengan kedua orang tua kandung. Menurut Sawitri, itu akan membuat anak percaya bahwa dia dikasihi dan dicintai. Memang Anda bercerai, tapi jangan sampai anak
menceraikan anak dengan ibu atau bapaknya. Anak-anak sangat membutuhkan cinta anda berdua.

*Jangan bebani anak.*
Anda harus hati-hati untuk tidak mendewasakan anak terlalu dini, sehingga dia kehilangan masa kanak-kanaknya. Ada kecenderungan orang tua tunggal akan bergantung pada anak yang lebih tua untuk menjaga adik-adiknya. Anak kadang dilarang untuk bermain, hanya untuk menekan dia agar membantu orang tuanya. Kadang kala itu diletakkan pada pundak anak laki. Sebenanrnya cara itu tidak sehat karena anak belum sanggup untuk memikirkan masalah kehidupan. Dia belum mampu untuk memikul kesedihan dan beban yang berat itu. Biarkanlah dia asyik dengan dunia anak-anaknya.

*Luangkan waktu*.
Menjadi orang tua tunggal terbilang susah-susah gampang. Anda bisa mencontoh pemain sinetron Adjie Pangestu. Mantan suami Annisa Tri Hapsari--dulu Banowati--itu membesarkan putranya, Rafi Akbar Putra Pangestu seorang diri. Adjie terbilang lihai menangani anaknya yang baru berusia lima tahun. Rafi terlihat akrab dan dengan senang hati mematuhi perintah Adjie. Kegiatan Adjie setiap pagi adalah membangunkan Rafi. Dengan penuh kasih sayang, Adjie membangunkan Rafi di kamar tidurnya. Bercanda, mendengarkan mimpi Rafi. Setelah itu, Adjie mengajak Rafi mandi. Adjie mempunyai tip khusus untuk memandikan anak. Dia melarang anaknya membawa mainan dalam kamar mandi. Alasannya, supaya tak berlama-lama di kamar mandi. Setelah mandi dan gosok gigi, Rafi dibopong ke kamar tidurnya untuk dibedaki dan dipakaikan baju. Mantan Abang Jakarta ini kemudian mengajak Rafi bermain. Setelah itu, mereka kemudian sarapan. Dan Adjie telah siap mengantarkan anaknya pergi sekolah.

*Pelihara keintiman.*
Langkah yang harus Anda lakukan terus-menerus adalah memelihara keintiman, jangan sampai berkurang. Memang tak mudah, karena Anda harus memikul beban finansial keluarga. Dengan kata lain ada banyak keterbatasan untuk menjalin komunikasi dengan si anak. Meski begitu, Anda harus tetap melakukan. Misalnya seminggu sekali pastikan Anda dan anak-anak keluar bersama, ke mall, atau ke toko buku. Bisa juga ngobrol bersama sambil makan malam. Kalau tidak, sekurang-kurangnya setiap malam 30 menit saja sebelum tidur bisa bicara dari hati ke hati dengan anak-anak. Jadi kedekatan dengan si anak adalah modal yang sangat berperan besar untuk mengurangi potensi konflik sewaktu si anak-anak itu menginjak usia remaja. Cuma biasanya, rasa lelah membuat Anda lalai.
*(cn02)*
Copyright © 2004 SUARA MERDEKA
sumber :http://www.suaramerdeka.com/cybernews/wanita/tips/tips10.html
gambar :
http://www.singleparentlove.com/images/content_image.jpg

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails