Nov 28, 2006

info buku : Rebuilding When Your Relationship Ends

Photobucket - Video and Image Hosting


Judul: Rebuilding When Your Relationship Ends ~ Bangkit Kembali Setelah Hubungan Anda Putus
Penulis : Dr. Bruce Fisher & Dr. Robert Albert
Penerbit : Grasindo


"Apakah dia sungguh mengetahui apa yang kurasakan?"

Demikian yang dikatakan pembaca tentang Rebuilding. Jika Anda disakiti oleh tragedi perceraian, Anda membutuhkan program yang mendukung ini langkah demi langkah dalam upaya menjadikan hidup Anda bergairah kembali.

"Salah satu buku terbaik yang ditulis bagi orang yang mengalami perceraian dan korban perceraian."The Behavior Therapist"

Saya sudah membaca buku ini empat kali dan menstabilonya dengan warna yang berbeda. Selalu ada saja hal-hal baru ditemukan... Saya memberi buku ini kepada orang lain. Sangat baik di dalam memulihkan kembali suatu proses, sekaligus juga mengagumkan.
Joy Spalding, Colorado (online review)

"...menyangkut perasaaan dan persoalan-persoalan sehari-hari sehubungan dengan menceraikan dan diceraikan.... perpaduan antara hal-hal yang serius dan optimisme."
Florence Kaslow, Ph.D.
Journal of Marital and Family Therapy

"Menyadarkan saya bahwa saya bukan satu-satunya orang yang merasa dan bertindak pada jalur yang pasti ketika sebuah perkawinan berantakan. Kami semua mengalami reaksi dan emosi yang sama. Langkah untuk kembali bangkit dalam kehidupan Anda, menjadi semakin bermakna dan memang begitulah adanya."
Linda Percussi, New Jersey (online review)

"...sebuah buku pegangan dalam hal menceraikan dan diceraikan. Dapat diterapkan di dalam membangun kembali hubungan yang hancur dalam kehidupan."
Esther Oshiver Fisher, J.D.
Journal of Divorce

"....hangat, sederhana, dan langsung... inilah buku yang jika Anda baca, Anda tak ingin berhenti sebelum halaman akhir."
A.R.E. Press

Bruce Fisher, Ed.D mengembangkan model pemulihan kembali setelah perceraian (Rebuilding) selama kurang lebih 25 tahun. Pendiri dan direktur Family Relations Learning Center (Boulder, Colorado), dia sudah mentraining ribuan orang dengan pendekatan ini, memperkaya kehidupan banyak orang di seantero dunia. Ia dikenal sebagai terapis yang andal dalam masalah perceraian, penulis, pendidik, anggota American Association for Marriage and Family Therapy.

Robert E. Alberti, Ph.D. adalah psikolog, terapis untuk masalah perkawinan dan keluarga, Fellow (Psychotherapy) of the American Association, anggota klinis American Association for Marriage and Family Therapy, penulis beberapa buku, termasuk buku laris Your Perfect Right. Karyanya dikenal luas dan dihargai sebagai gold standard di bidang penyembuhan psikologis secara mandiri.

Oct 20, 2006

Perempuan Orangtua Tunggal, Bukan "Trend" tetapi Pilihan Nasib

oleh : Maria S Ratri
MENJADI orangtua tunggal bagi seorang perempuan kebanyakan adalah lebih merupakan pilihan nasib. Sama sekali tidak tepat dinyatakan sebagai trend (kecenderungan) hanya karena segelintir artis menjalaninya dengan terbuka. Hal ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan karena menjadikan status orangtua tunggal sebagai kecenderungan dapat memberi pengaruh kurang baik bagi generasi muda.
Lagi pula, bagaimana dapat dinyatakan sebagai suatu trend bila sebagian besar perempuan (biasa) yang mengalaminya mengambil keputusan tersebut lebih karena situasi-kondisi yang sering kali di luar kendali dan harapannya sehingga "memaksa" perempuan cepat mengambil keputusan yang dirasanya terbaik. Terbaik untuk saat itu, baginya dan anak(-anak)-nya, juga dalam menghadapi masa mendatang.
Bagaimana bisa disebut sebagai trend di dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi norma sosial (setidaknya di permukaan) jika kenyataannya adalah nasib yang harus dijalani perempuan kebanyakan karena pilihannya sudah sangat terbatas. Tak jarang nyawa adalah taruhannya.
Untuk lebih memahami pilihan perempuan menjadi orangtua tunggal, ada baiknya juga bila kita mengerti bahwa pilihan tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu yang sama sekali tidak pernah menikah dan yang sempat/pernah menikah.
Yang tidak pernah menikah dapat dibedakan menjadi yang memang ingin punya anak tanpa menikah, dan yang terpaksa tidak menikah karena ayah sang anak tidak mau bertanggung jawab. Sementara untuk yang bercerai terbagi atas yang masih menjalin hubungan baik dengan mantan suami sehingga anak tidak kehilangan figur ayah, dan yang benar-benar putus hubungan, tidak dipedulikan lagi oleh mantan suami.
Perbedaan dua kategori ini secara umum tidak terasa karena intinya adalah sama: perempuan menjadi orangtua tunggal. Namun, bila didalami sedikit banyak akan tampak bedanya.
BAGI perempuan yang memilih punya anak tanpa menikah, secara lahir batin ia siap dengan segenap konsekuensi yang akan dihadapi. Keluarganya pun telah mempersiapkan mental dan emosional mereka masing-masing, termasuk dalam menjelaskan pilihan tersebut kepada masyarakat sekitar.
Pada perempuan yang terkaget-kaget karena kekasihnya menolak bertanggung jawab namun ia sendiri tetap ingin membesarkan anaknya, trend sama sekali tidak terlintas di kepalanya. Rasa bersalah dan rasa tidak ingin menambah dosa yang ada dengan melakukan aborsi lebih mendominasi pikirannya.
Reaksi orangtua dan saudara dengan risiko dikucilkan sementara ataupun selamanya, teman, tetangga, dan rekan kerja, belum lagi status hukum sang anak kelak dan stigma masyarakat, menjadi beban luar biasa berat. Tetapi, niat untuk tidak berlarut-larut dalam kesalahan sambil tetap berharap siapa tahu ayah sang bayi dalam kandungannya sadar dan bertanggung jawab membulatkan tekadnya untuk maju terus memelihara kandungannya.
Urusan menikah atau tidak itu urusan Tuhan, yang penting bagaimana ia mempersiapkan dirinya secara utuh fisik, mental, emosional, dan finansial, menghadapi masa kini dan masa depan bersama buah hatinya, dalam lingkup kecil keluarga terlebih dalam lingkungan masyarakat luas. Butuh kekuatan hati dan daya juang tinggi untuk menjalani semua itu, termasuk mengikis rasa dendam kepada si lelaki dan membuktikan kepada lingkungan sekitar bahwa ia mampu.
Belum lagi bila kelak ia ingin menikah. Sekalipun calon suami menerimanya, dapatkah keluarga calon menerima keberadaan seorang menantu yang tidak pernah menikah namun telah punya anak? Bersediakah calon mertua menjelaskan kepada sanak saudara, teman, dan tetangga bahwa sang menantu terpaksa tidak menikah karena si pria menolak bertanggung jawab walau telah menghasilkan anak? Seorang teman sampai merasa para calon mertua pasti lebih memilih janda yang jelas-jelas memiliki bekas suami daripada perempuan punya anak tanpa bekas suami. Namun, ia menyadari, semua ini adalah risiko pilihan hidup yang dijalaninya.
Pada perempuan yang pernah menikah lalu bercerai, siap atau tidak, predikat janda dengan anak(-anak) akan disandangnya. Bila hubungan dengan mantan suami dan keluarganya baik, masalah figur ayah juga kebutuhan hidup sehari-hari bagi anak sedikit banyak teratasi. Kehadiran ayah bukan hanya secara fisik, masih dapat dirasakan anak dan lingkungan sekitar pun melihat kenyataan keberadaan sosok ayah sekalipun telah bercerai dari sang ibu tetapi tetap menjadi bagian dalam hidup anak. Namun, bila hubungan tersebut berantakan dan tanpa dukungan memadai dari pihak keluarga perempuan, maka sang anak pun harus siap ikut menanggung akibatnya.
Sama dengan situasi perempuan orangtua tunggal yang tidak menikah, anak-anak janda ini pun akan ditanyai keberadaan (bukan hanya fisik) ayahnya. Perbedaan antara yang menikah dan tidak salah satunya adalah kejelasan keberadaan ayah dan status hukum yang terkait dengan hal tersebut dalam akta kelahiran. Selain pertanyaan seperti, "Ayahmu pernah telepon tidak?" atau "Ayahmu pernah ngasih apa aja buat kamu?" Juga, "Lho, kenapa ayahmu tidak mau tinggal sama kamu lagi?"
Jelaslah bagi anak dari perempuan orangtua tunggal, terlebih bila anak bersekolah di sekolah biasa dan bukan sekolah kurikulum internasional yang biasanya tidak mempermasalahkan hal ini, tekanan yang dihadapi anak tidak ringan. Selain secara pribadi ia menyaksikan anak-anak lain memiliki ayah-ibu yang tampak bersama-sama dalam acara-acara tertentu sekolah, dalam lingkungan sekolah dan pertemanannya pun ia akan ditanyai keberadaan ayahnya. Sekali-dua sosok ayah tidak hadir masih dapat dimaklumi, tetapi bila setiap kali hanya berdua dengan ibu, maka pertanyaan mengenai ayah tanpa sungkan akan diajukan.
Belum lagi bila teman-teman sebaya ribut membanggakan kelebihan ayah masing-masing. Figur ayah macam apa yang dapat ia banggakan? Sekadar foto-foto seorang pria, baik sendirian maupun bersama ibunya (ataupun juga dengan sang anak bila kedua orangtuanya sempat menikah), di masa entah kapan? Bagi seorang ibu, hal-hal yang menyangkut dan melukai perasaan anaknya sungguh terasa lebih menghunjam daripada gosip tetangga dan rekan kerja tentang dirinya.
ANAK dari perempuan orangtua tunggal dapat tumbuh sehat jasmani dan rohani, moril dan materiil atas dukungan keluarga inti dan keluarga besar, juga lingkungan yang menerima, tetapi semua itu memerlukan proses yang tidak semenarik ilusi sulap.
Akhir kata, marilah kita galakkan pemahaman bahwa menjadi orangtua tunggal adalah pilihan hidup yang tidak mudah, namun tetap harus dihargai sebagai suatu bentuk kekuatan perempuan yang dapat dibanggakan, bukannya trend layar kaca yang ingar-bingar. Di balik keputusan tersebut terkandung permasalahan yang kompleks dan perjuangan amat berat bagi perempuan kebanyakan yang tidak mungkin dibahas secara gamblang di media apa pun.
(Maria S Ratri Orang tua tunggal tinggal di Surabaya)
sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/16/swara/1750567.htm

Jika Harus Berpisah... Menjadi Orang tua Tunggal

Siapa pun pasti tak pernah berharap menjadi orang tua tunggal (single parent). Keluarga yang lengkap dan utuh merupakan idaman setiap orang. Namun, adakalanya nasib berkata lain. Menjadi single parent dalam sebuah rumah tangga tentu saja tidak mudah. Terlebih, bagi seorang isteri yang ditinggalkan suaminya, karena meninggal atau bercerai. Paling tidak, dibutuhkan perjuangan berat untuk membesarkan si buah hati, termasuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Meski menjadi orangtua tunggal terbilang tak mudah dijalani, namun sangat banyak wanita yang menjadi ibu sekaligus kepala keluarga, tetap sukses membesarkan anak-anaknya. Pengalaman sukses menjadi single parent telah ditempuh, mantan peragawati Titi Qadarsih, walau harus mengalami pasang surut yang tak terkirakan untuk mengantar anak-anaknya ke masa depan.
Titi menjadi single parent setelah ditinggal sang suami untuk selama-lamanya pada 1996. Sejak itu ia mengaku semakin mendekatkan diri pada Allah SWT sebagai sumber kekuatan dirinya. ''Ternyata mendidik anak tidak hanya membutuhkan keuletan dan kesabaran, tapi juga harus ada bimbingan dari Yang Di Atas,'' tutur Titi. Titi pun merasa harus melakukan segala sesuatunya sendiri, yakni menjadi kepala keluarga sekaligus ibu bagi anak-anak. Ibu dua anak ini mengakui sejak ditinggal sang suami, kehidupan yang harus dilaluinya terasa lebih berat, terutama menyangkut perannya sebagai orangtua tunggal yang harus membesarkan dua anaknya.
Cobaan demi cobaan harus dilaluinya sendirian. Artinya, dari menghadapi masalah hingga menyelesaikan masalah anak-anak lebih banyak harus dipikirkan dan dilakukannya sendiri. Dengan ketelatenan dan doa yang selalu dipanjatkan ia merasa kerap kali cobaan itu berhasil dilaluinya. ''Alhamdulillah, dengan ketelatenan dan berserah diri kepada Allah, cobaan yang menimpa keluarga saya akhirnya bisa teratasi,'' ujar Titi. Menurut mantan peragawati ini, setiap orang pasti pernah menghadapi persoalan berat dalam hidupnya. Persolaan itu, sambungnya, bisa menjadi berat dan bisa pula menjadi ringan tergantung setiap orang menyikapinya. ''Semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Kuncinya, asal mau selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,'' katanya.
Anak masalah terberatPakar ahli jiwa AS, Dr Stephen Duncan, dalam tulisannya berjudul The Unique Strengths of Single-Parent Families mengungkapkan, pangkal masalah yang sering dihadapi keluarga yang hanya dipimpin orangtua tunggal adalah masalah anak. Anak, paparnya, akan merasa dirugikan dengan hilangnya salah satu orang yang berarti dalam hidupnya. ''Hasil riset menunjukkan bahwa anak di keluarga yang hanya memiliki orangtua tunggal, rata-rata cenderung kurang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik dibandingkan aanak yang berasal dari keluarga yang orangtuanya utuh,'' terangnya.
Menurut Duncan, keluarga dengan orangtua tunggal selalu terfokus pada kelemahan dan masalah yang dihadapi. Ia berpendapat, sebuah keluarga dengan orangtua tunggal sebenarnya bisa menjadi sebuah keluarga yang efektif, laiknya keluarga dengan orangtua utuh. Asalkan, mereka tak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya. ''Melainkan, harus secara sadar membangun kembali kekuatan yang dimilikinya,'' katanya. Sedangkan, Stephen Atlas, pengarang buku Single Parenting, menuliskan, jika keluarga dengan orangtua tunggal memiliki kemauan untuk bekerja membangun kekuatan yang dimilikinya, itu bisa membantu mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dengan begitu, Duncan menyambung, ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari upaya itu bagi si orangtua maupun anak-anaknya. ''Dengan begitu, sebenarnya bukan sebuah halangan bagi wanita yang menjadi single parent untuk mendidik dan memelihara keluarganya,'' katanya. Apalagi ada sebuah kajian psikologi yang menyatakan bahwa wanita bisa lebih kuat menghadapi perpisahan, baik itu kematian maupun perceraian dengan pasangan, ketimbang laki-laki. Wanita semestinya lebih tahan menderita karena secara sunnahtullah ia terlatih untuk 'kuat' menghadapi darah menstruasi di awal balighnya, hamil, dan melahirkan. Sementara, di usia baligh yang sama, anak laki-laki mungkin masih bermain-main. Namun, paparan ini bukan menjadi alasan untuk mudah memutuskan menjadi orang tua tunggal, apalagi karena perceraian. - (hri/ berbagai sumber )
Sumber: http://www.republika.co.id

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails