Oct 4, 2006

Tips: Piawai Menjadi Orangtua Tunggal


Salah satu persoalan bagi orang tua tunggal adalah mengatur waktu antara mencari nafkah dan mengawasi keseharian anak. Bekerja paruh waktu merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah itu. Dengan cara itu,Anda dapat mengawasi anak selama waktu-waktu istirahat, sekaligus bekerja. Saat ini ada banyak lapangan pekerjaan yang flexibel.

Anda dapat bekerja sementara anak Anda bersekolah, dan Anda bisa pulang saat anak belum tiba di rumah. Anda bisa juga memilih pekerjaan/freelance/ yang dapat dilakukan dari rumah, jadi pastikan menggalisemua kemungkinan untuk membuka peluang usaha.

Atau Anda bekerja hanya hari Senin, Rabu dan Jumat saja. Bisa juga pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Selain itu Anda bisa juga mengatur usaha hanya pada pagi atau sore saja. Yang jelas, Anda dituntut untuk menjadiorang yang kreatif dan fleksibel dalam mengelola waktu kerja.

*Tepat pilih pengasuh*.
Menjadi orang tua tunggal, tentu akan memotong waktu kebersamaan Anda dengan anak. Karena waspadai orang-orang yang berpengaruh terhadap keberadaan anak-anak. Yang jelas jangan pernah membiarkan anak-anak sendirian di rumah. Jika ada ibu Anda, tentu tak masalah. Tapi jika tidak, Anda perlu untuk mencari pengasuh bagi anak Anda. Namun perlu Anda perhatikan, sikap dan komitmen seperti apa yang dia miliki dalam mengasuh anak Anda. Gaya dan sikap hidup seperti apa yang mereka miliki? Anda perlu tahu juga hal-hal seperti apa yang diizinkan pengasuh anak-anak? Dengan begitu Anda tetap bisa memantau perkembangan anak.

*Anak sebagai sahabat.*
Sesibuk apa pun, Anda harus tetap bisa menjalin komunikasi dengan anak. Manusia sanggup mencintai dan dicintai; iniadalah hal penting bagi pertumbuhan kepribadian. Kehangatan persahabatan, ketulusan kasih sayang, dan penerimaan orang lain amat
dibutuhkan manusia. Anak sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kasih sayang yang tak terpenuhi akan menimbulkan perilaku anak kurang baik. Anak akan menjadi agresif, kesepian, frustrasi, bahkan mungkin bunuh diri. Maka Anda perlu berkomunikasi dengan anak, agar dia tidak merasa kesepian. Anda bisa mendengarkan cerita anak, dan sebaliknya Anda juga menceritakan apa yang sedang Anda alami. Jadikanlah anak sebagai sahabat.

*Rileks dan gembira.*
Setiap orang memerlukan waktu spesial untuk menyendiri. Ini juga yang nyata-nyata dibutuhkan orang tua tunggal. Berkorban bagi anak-anak akan meningkatkan kualitas hubungan Anda dan anak. Namun Anda perlu juga memikirkan waktu untuk Anda sendiri.Seseorang akan lebih dapat menahan amarah dan menjadi lebih sabar jika
punya waktu untuk merefleksi dirinya atau mengendurkan syaraf-syaraf otak. Beberapa ibu tunggal memiliki kecenderungan mudah merasa bersalah, jika mereka mempunyai waktu untuk bergembira dan menikmati hidup. Padahal suasana itu sangat penting untuk menjaga emosi Anda. Jadi jangan beranggapan bahwa Anda terlalu memanjakan diri, jika sekali waktu Anda bergembira atau /refreshing/. Ingat jangan merasa bersalah jika Anda
bergembira. Karena itu baik untuk pengasuhan anak Anda. Waktu istirahat yang cukup, rileks, termasuk rekreasi akan menjaga kenyamanan keluarga Anda.

*Jangan ceraikan anak.*
Menurut psikolog yang banyak menangani masalahpernikahan, Dra Sawitri Sapardi Sadarjoen, Anda perlu meyakinkan anak bahwa orang tua tetap mencintai anak meski telah bercerai. Istri yang tinggal bersama anak harus memperbolehkan anak bertemu dengan ayah kandungnya. Yakinkan padanya, Anda menyetujui pertemuan tersebut dan
menyemangati anak untuk menyukai pertemuan tersebut.
Selain itu, anda bisa merancang rencana pertemuan yang rutin, pasti, terprediksi, dan konsisten antara anak dan orang tua. Kalau anak sudah mulai beradaptasi dengan perceraian, jadwal pertemuan bisa dibuat dengan fleksibel. Penting buat anak untuk tetap bisa bertemu dengan kedua orang tua kandung. Menurut Sawitri, itu akan membuat anak percaya bahwa dia dikasihi dan dicintai. Memang Anda bercerai, tapi jangan sampai anak
menceraikan anak dengan ibu atau bapaknya. Anak-anak sangat membutuhkan cinta anda berdua.

*Jangan bebani anak.*
Anda harus hati-hati untuk tidak mendewasakan anak terlalu dini, sehingga dia kehilangan masa kanak-kanaknya. Ada kecenderungan orang tua tunggal akan bergantung pada anak yang lebih tua untuk menjaga adik-adiknya. Anak kadang dilarang untuk bermain, hanya untuk menekan dia agar membantu orang tuanya. Kadang kala itu diletakkan pada pundak anak laki. Sebenanrnya cara itu tidak sehat karena anak belum sanggup untuk memikirkan masalah kehidupan. Dia belum mampu untuk memikul kesedihan dan beban yang berat itu. Biarkanlah dia asyik dengan dunia anak-anaknya.

*Luangkan waktu*.
Menjadi orang tua tunggal terbilang susah-susah gampang. Anda bisa mencontoh pemain sinetron Adjie Pangestu. Mantan suami Annisa Tri Hapsari--dulu Banowati--itu membesarkan putranya, Rafi Akbar Putra Pangestu seorang diri. Adjie terbilang lihai menangani anaknya yang baru berusia lima tahun. Rafi terlihat akrab dan dengan senang hati mematuhi perintah Adjie. Kegiatan Adjie setiap pagi adalah membangunkan Rafi. Dengan penuh kasih sayang, Adjie membangunkan Rafi di kamar tidurnya. Bercanda, mendengarkan mimpi Rafi. Setelah itu, Adjie mengajak Rafi mandi. Adjie mempunyai tip khusus untuk memandikan anak. Dia melarang anaknya membawa mainan dalam kamar mandi. Alasannya, supaya tak berlama-lama di kamar mandi. Setelah mandi dan gosok gigi, Rafi dibopong ke kamar tidurnya untuk dibedaki dan dipakaikan baju. Mantan Abang Jakarta ini kemudian mengajak Rafi bermain. Setelah itu, mereka kemudian sarapan. Dan Adjie telah siap mengantarkan anaknya pergi sekolah.

*Pelihara keintiman.*
Langkah yang harus Anda lakukan terus-menerus adalah memelihara keintiman, jangan sampai berkurang. Memang tak mudah, karena Anda harus memikul beban finansial keluarga. Dengan kata lain ada banyak keterbatasan untuk menjalin komunikasi dengan si anak. Meski begitu, Anda harus tetap melakukan. Misalnya seminggu sekali pastikan Anda dan anak-anak keluar bersama, ke mall, atau ke toko buku. Bisa juga ngobrol bersama sambil makan malam. Kalau tidak, sekurang-kurangnya setiap malam 30 menit saja sebelum tidur bisa bicara dari hati ke hati dengan anak-anak. Jadi kedekatan dengan si anak adalah modal yang sangat berperan besar untuk mengurangi potensi konflik sewaktu si anak-anak itu menginjak usia remaja. Cuma biasanya, rasa lelah membuat Anda lalai.
*(cn02)*
Copyright © 2004 SUARA MERDEKA
sumber :http://www.suaramerdeka.com/cybernews/wanita/tips/tips10.html
gambar :
http://www.singleparentlove.com/images/content_image.jpg

1 comment:

Admin said...

terima kasih untuk artikelnya. saya seorang ibu tunggal dari seorang anak perempuan remaja. karena kelalaian saya, hubungan saya dengan anak saya kurang dekat, malah semakin terasa jauh. di usia anak saya yang 16 tahun, dia masih kurang mandiri, dan kebanyakan waktunya digunakan untuk main di luar rumah bersama teman-temannya yang kebanyakan laki-laki. saya merasa khawatir anak saya terpengaruh pergaulan yang kurang baik, saya sedih karena saya tahu anak saya tidak berbahagia. namun rasanya persoalan saya sudah terlanjur rumit, bingung mau mulai dari mana untuk memperbaiki hubungan saya dan anak saya, perkataan saya sudah tidak didengar.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails